Jumat, 08 April 2011

pasca G30S/PKI

Untuk anak2 XI IPA SMANIKE silahkan dibaca posting ini. Sejarah mengajari kita untuk bisa hidup lebih baik dimasa kini dan yang akan datang. Semoga "tragedi" yang menimpa bangsa ini ditahun 1965/66 tidak terulang dalm bentuk apapun. Saya harapkan kalian bisa mengambil hikmah dari peristiwa seputar G30 S/PKI. kalian bisa posting koment. setiap posting mendapatkan nilai untuk pelajaran sejarah.

Sejarah Munculnya”Lahirnya” Orde Baru.

Gestapu 1965: Awal Sebuah Malapetaka
  Pada hari kamis malam tanggal 30 September 1965, sekelompok pasukan yang terdiri dari berbagai kesatuan Angkatan Darat bergerak menuju kediaman 7 perwira tinggi Angkatan Darat. Hanya satu tujuan mereka, membawa ketujuh orang jenderal tersebut hidup atau mati ke hadapan Presiden Soekarno. Pada kenyataannya, mereka yang diculik tak pernah dihadapkan kepada Soekarno. Dalam aksinya, gerakan itu hanya berhasil menculik 6 jenderal saja. Keenam jenderal tersebut ialah Letjen. Ahmad Yani, Mayjen. Suprapto, Mayjen. S. Parman, Mayjen. Haryono M.T., Brigjen. D.I Pandjaitan, Brigjen. Sutojo Siswomihardjo dan Lettu. Piere Tendean ajudan Jenderal Nasution. Nasution sendiri berhasil meloloskan diri dengan melompat ke rumah Duta Besar Irak yang terletak persis disebelah kediamannya. Di pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, sebuah susunan Dewan Revolusi diumumkan melalui corong Radio Republik Indonesia (RRI). Pengumuman itu memuat pernyataan bahwa sebuah gerakan yang terdiri dari pasukan bawahan Angkatan Darat telah menyelamatkan Presiden Soekarno dari aksi coup d´etat. Menurut mereka, coup d´ètat ini sejatinya akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal dan CIA pada tanggal 5 Oktober 1965, bertepatan dengan hari ulang tahun ABRI yang ke-20. Empat hari kemudian, jenazah keenam jenderal dan satu orang letnan itu diketemukan di sebuah sebuah sumur yang kemudian dikenal sebagai Lubang Buaya. Di sela-sela acara penggalian korban, Soeharto memberikan pernyataan bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh aktivis PKI didukung oleh Angkatan Udara.
Sehari setelah penemuan jenazah, koran-koran afiliasi Angkatan Darat meng-ekspose foto-foto jenazah tersebut. Mereka mengabarkan bahwa para jenderal tersebut mengalami siksaan di luar prikemanusiaan sebelum diakhiri hidupnya.3 Pemakaman korban dilakukan secara besar-besaran pada tanggal 5 Oktober 1965. Nasution memberikan pidato bernada emosional, ia sendiri kehilangan seorang putrinya, Ade Irma Nasution. Upacara pemakaman itu berlangsung tanpa dihadiri Soekarno. Ketidakhadirannya itu menimbulkan beragam penafsiran.4
Pemuatan foto-foto jenazah korban dan berita penyiksaan yang dilakukan memberi-kan sumbangan besar terhadap lahirnya histeria massa anti PKI. Di sana-sini orang-orang tak habis-habisnya membicarakan penyiksaan yang dilakukan oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Perempuan-perempuan Gerwani itu diisukan mencukil mata jenderal dan memotong kemaluannya.5
Segera setelah media massa Ibukota yang berafiliasi dengan Angkatan Darat melansir berita tersebut selama berhari-hari, dimulailah suatu pengganyangan besar-besaran pada PKI. Di Jakarta, Kantor pusat PKI yang belum selesai dibangun diluluhlantakan. Beberapa orang pemimpin PKI ditangkap. Tak hanya sampai di situ, anggota PKI pun mengalami sasaran.
Secara de facto, sejak tanggal 1 Oktober 1965, Soeharto merupakan pemegang kekuasaan. Soekarno sendiri secara bertahap digeser dari percaturan politik, lebih dalam lagi ia layaknya seorang kapten dalam sebuah team sepak bola yang tak pernah menerima bola untuk digiring. Strategi dan taktik Soeharto dalam melakukan kontra aksi Gestapu 1965 sangat efektif dan mematikan6. Dalam waktu satu hari ia berhasil membuat gerakan perwira-perwira „maju“ ¨ itu kocar-kacir. Sehari setelah menerima Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Soeharto mengeluarkan surat perintah bernomor 1/3/1966 yang memuat tentang pembubaran serta pelarangan PKI dan organisasi onderbouwnya di Indonesia. Inilah coup d´etat sesungguhnya. Bersamaan ini, dimulai drama malapetaka kemanusiaan di Indo-nesia.
Ganjang Komunis!: Pembunuhan Massal serta Penangkapan Anggota dan Simpati-san PKI di Daerah.
Di daerah-daerah, kampanye pengganyangan PKI diwujudkan dengan tindakan penculikan dan pembunuhan secara massal terhadap anggota dan simpatisan PKI. Semua anggota organisasi massa yang disinyalir memiliki hubungan dengan PKI pun tak luput mengalami hal serupa. Pembantaian dilakukan kadang-kadang oleh tentara, kadang-kadang oleh sipil, orang-orang Islam atau lainnya.7 Di sini, tentara merupakan pendukung utama. Masyarakat merupakan unsur korban propangadis Angkatan Darat yang secara nyata memiliki konflik dengan PKI. Di beberapa tempat memang terjadi konflik antara PKI dan kelompok lain di kalangan masyarakat. Di Klaten misalnya, aksi pembantai-an massal menjadi ajang balas dendam musuh-musuh PKI yang berkali-kali melaku-kan aksi sepihak penyerobotan lahan-lahan milik tuan tanah di sana. Aksi sepihak ini berakibat bagi kemunculan benih-benih konflik di masyarakat. Pasca Gestapu 1965, PKI menjadi sasaran utama kebencian yang terpendam sekian lama.8 Apa yang terjadi di Klaten tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Jombang dan Kediri. Namun kedua daerah ini memiliki sejarah konflik yang sangat kronis. Kaum komunis menuduh umat Islam telah mengobarkan „Jihad“ untuk membunuh orang komunis dan mempertahankan tanah miliknya atas nama Allah, sedangkan umat Muslim menuduh PKI dan Barisan Tani Indonesia (BTI) melakukan penghinaan terhadap agama Islam.9 Saling tuduh ini merupakan manifestasi konflik kepentingan diantara dua kelompok.
Bagi PKI, tanah merupakan komoditi politik-ekonomi yang dapat dijadikan alasan untuk menyerang kaum Muslim sebagai penguasa tanah mayoritas. Sedangkan kaum Muslim menggunakan isu ideologis atheis terhadap PKI untuk menyerang balik. Dua hal ini memang berujung pada kepentingan ekonomis. Namun, dengan keyakinannya masing-masing, kedua kelompok ini berhasil membangun sebuah opini yang mengarahkan pengikutnya pada titik temu konflik berkepanjangan. Keduanya sama-sama ngotot.
Berbeda dengan di Jombang, Kediri dan Klaten, di Purwodadi, pembunuhan massal lebih tepat dikatakan sebagai bagian dari genosida yang dilakukan oleh militer terhadap massa PKI. Di daerah lain yang menjadi ladang pembantaian, tentara hanya bermain sebagai sponsor di belakang kelompok agama dan sipil. Sementara di Purwodadi, tentara memegang peranan aktif dalam pembunuhan massal.
Purwodadi ialah sebuah kota kecil yang terletak 60 Km di sebelah Tenggara Semarang. Purwodadi ialah ibukota Kabupaten Grobogan. Daerah ini merupakan salah satu basis komunis terbesar di Jawa Tengah. Amir Syarifudin, tokoh komunis yang terlibat dalam Madiun Affairs tahun 1948, pun tertangkap di daerah ini.
Kasus Purwodadi sempat mencuat ketika pada tahun 1969, H.J.C Princen, seorang aktivis kemanusiaan, berkunjung ke Purwodadi. Dengan disertai Henk Kolb dari Harian Haagsche Courant dan E. Van Caspel10, Princen meninjau secara langsung keabsahan berita pembunuhan massal yang didengarnya dari seorang pastor. Adalah Romo Wignyosumarto yang kali pertama menyampaikan adanya pembunu-han besar-besaran ini. Romo Sumarto melaporkan berita tersebut pada Princen setelah ia mendengarkan pengakuan dari seorang anggota Pertahanan Rakyat (Hanra) yang turut dalam pembunuhan massal.11
Digunakannya unsur Hanra dalam pembunuhan massal sangat dimungkinkan karena lebih mudah diorganisir dan dikendalikan secara langsung oleh tentara setempat. tak terjadinya konflik horizotal di Purwodadi menyebabkan militer harus turun tangan langsung untuk melakukan pembunuhan massal. Di Jombang, Kediri dan Klaten, tentara hanya mensuplai senjata bagi kelompok-kelompok sipil. Selanjut-nya mereka hanya memberikan dukungan-dukungan baik dalam penangkapan mau-pun dalam hal penahanan Anggota dan Simpatisan PKI.
Pembunuhan dan penangkapan Anggota dan Simpatisan PKI di Purwodadi dibagi kedalam dua periode. Pertama, ialah penangkapan dan pembunuhan yang dilakukan tahun 1965. pada peristiwa ini ukuran penangkapan ialah jelas, artinya militer hanya menangkap mereka yang memiliki indikasi anggota PKI aktif beserta anggota-anggota organisasi onderbouw PKI.
Penangkapan periode pertama lebih memperlihatkan bagaimana militer melakukan strategi penghancuran secara sistemik terhadap PKI. Organisasi yang memiliki hubungan dengan PKI atau apapun itu sepanjang berbau komunis dapat dipastikan ditangkap. Ini memang cara yang paling efektif kendati jumlah korban tentu sangat banyak.
Dengan cara ini penguasa Orde Baru dapat meminimalisir ancaman komunisme. Perang terhadap penganut Marxisme ini memang lebih rumit dari sekedar anti-komunisme.12 Dari sudut pandang manapun terlihat jelas jika Orde Baru berusaha membangun sebuah konstruk kekuasaan tanpa aroma komunisme sedikitpun.
Kedua, penangkapan dan pembunuhan massal yang dilakukan pada tahun 1968. Pada periode ini, ukuran penangkapan sangat tidak jelas, serba semrawut dan serba asal-asalan. Hanya karena menjadi anggota Partai Nasional Indonesia faksi Ali Sastroamidjojo- Surachman militer sudah dapat menangkapnya. Penangkapan ini dikenal sebagai penangkapan terhadap Soekarno Sentris atau dikenal sebagai SS.13
Operasi penangkapan pada tahun 1968 ini dilakukan di bawah Komandan Komando Distrik (Kodim) 0717 Purwodadi dengan dibantu Batalyon 404 dan 409. Operasi ini diberi nama Operasi Kikis. Melalui operasi inilah seluruh anasi-anasir kekuatan komunis dan Orde Lama (SS) ditangkap. Tak jelas apa motivasi penangkapan terhadap orang-orang SS ini. Namun ini dapat dipahami sebagai usaha untuk mengkikis kekuatan Orde Lama. Di pusat kekuasaan, Soeharto sedang berusaha untuk mengukuhkan kekuasaanya. Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1971, kekuatan anti Orde Baru tentu menjadi penghalang bagi kekuasaanya. Pada perkembangan selanjutnya, orang-orang yang dianggap komunis ini didesain sebagai massa mengambang atau Floating Mass. Mereka tak dibiarkan memasuki sebuah organisasi politik tertentu selama kurun waktu lima tahun menjelang Pemilihan Umum (Pemilu),14 namun suara mereka dapat dipastikan disalurkan melalui Golongan Karya (Golkar). Konsep massa mengambang sendiri ialah sebuah konsep yang diajukan oleh Mayjen Widodo, Panglima Kodam VII/Diponegoro Jawa Tengah. Lalu konsep ini dikembangkan oleh pemikir dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga think-tanks Orde Baru yang berdiri pada tahun 1971 atas sponsor Ali Murtopo dan Soedjono Hoemardani, dua orang jenderal yang memiliki hubungan spesial dengan Soeharto.15
Tak berlebihan jika kasus di Purwodadi dapat dikategorikan ke dalam tindakan Genosida. Genocide menurut Helen Fein16 adalah suatu strategi berupa pembunuhan, bukan semata-mata karena benci atau dendam, terhadap sekelompok orang yang bersifat ras, suku, dan politik untuk meniadakan ancaman dari kelompok itu terhadap Keabsahan Kekuasaan para pembunuh.
Penangkapan dan pembunuhan massal pada tahun 1968 ini banyak menimbulkan korban. Banyak mereka yang tak mengetahui apapun tentang politik ditangkap bahkan dibunuh. Contohnya seperti apa yang diungkapkan oleh Bapak Sp.:
Saya hanya pemain sandiwara Ketoprak pedesaan. Namun, saya ditangkap karena saya dianggap memiliki hubungan dengan Lekra. Oleh karena itu saya sempat mendekam di Penjara Nusa Kambangan selama 3 tahun. Di sebuah Kamp di Pati, saya dipaksa untuk mengakui bahwa saya anggota PKI17
Ini membuktikan ekses negatif pada sebuah operasi militer. Hal serupa pernah diungkapkan oleh Ali Murtopo, ia mengatakan jatuhnya korban pembunuhan massal di Purwodadi ialah sebuah konsekuensi dalam sebuah operasi militer.18
Operasi militer merupakan salah satu usaha yang digunakan tentara Indonesia dalam mengontrol, memperkukuh dan memberikan sebuah ukuran kesetiaan bagi pemerintah pusat. Operasi ini kerap dilakukan dalam rangka menumpas gerakan perlawanan daerah terhadap pusat. Penguasa Pusat (Baca: Jakarta) memposisikan sebagai kosmis kekuasaan Raja sementara daerah ditempatkan sebagai Kawula. Hal ini merupakan hasil dari interdependensi antara kekayaan dan politik dalam masyarakat tradisional.19 Jelas sebuah operasi militer memiliki arti strategis dalam menjaga kekuasaan pusat atas kekayaan daerahnya.
Kebijakan operasi militer di Purwodadi tidak terlepas dari peranan komandan Kodim 0717 sendiri sebagai penguasa militer setempat. Letkol. Tedjo Suwarno, Komandan Kodim dikenal sebagai orang yang keras dan berambisi20. Atas perintahnyalah ratusan orang ditangkap selama tahun 1968. Seorang saksi bernama Bapak Wt bercerita perihal penangkapan besar-besaran pada tahun 1968. Tahanan itu ditempatkan di sebuah Kamp di Kuwu, desa kecil yang terletak 25 Km di Selatan Purwodadi: Saya ditempatkan di sebuah kamp di Kuwu. Setiap sore datang sekitar dua ratus orang tahanan. Namun, di pagi hari, dua ratus orang itu telah dibawa oleh aparat. Yang tersisa hanya saya dan dua teman saya ¨21  di kemudian hari ia mendengar kabar bahwa ratusan orang itu di bunuh di daerah Monggot atau di daerah lainnya di sekitar Kabupaten Grobongan. Bagi mereka yang kaya dan memiliki hubungan khusus dengan para perwira militer, sogok atau suap kerapkali terjadi demi menyelamatkan suami, anak atau sanak saudaranya yang ditahan militer Purwodadi.
Tak heran jika pada waktu itu banyak perwira-perwira yang menumpuk kekayaan hasil dari uang sogok kerabat tahanan tahanan. Di waktu selanjutnya sudah menjadi kebiasaan jika seorang penguasa militer merupakan pelindung yang ampuh untuk apapun. Seorang pengusaha misalnya, ia dapat bebas berdagang di sebuah daerah dengan meminta backing pada penguasa militer setempat22. bukan isapan jempol jika penguasa militer di daerah memiliki pengaruh besar.
Figur kepemimpinan militer di daerah seperti halnya di Purwodadi memang memiliki pengaruh yang cukup kuat. Di masa Orde Baru, sudah menjadi kebiasaan jika seorang Komandan Kodim (Dandim) diangkat menjadi Bupati. Ini dilakukan atas pertimbangan kemanan dan realisasi dari Dwi Fungsi ABRI.
Fenomena tersebut dikenal sebagai konsep kekaryaan ABRI. Konsep ini diperuntukan bagi perwira militer yang karirnya mentok atau tak lagi memiliki kesem-patan menapaki jenjang karir yang lebih tinggi. Para perwira ini biasanya diplot menjadi kepala daerah baik di tingkat I atau II. Orde Baru menciptakan kategori daerah-daerah tertentu bagi penempatan perwira-perwira mentok ini.23
Pada masa Orde Baru, Penguasa militer di daerah, dari Tk I hingga II atau bahkan tingkat Komando Rayon Militer (Koramil) berusaha dengan keras menciptakan suasana aman dan stabil. Maka ukuran kestabilan keamanan pasca Gestapu 1965 ialah dengan mencegah timbulnya kembali kekuatan komunisme di Indonesia.24 Ada kesan dengan menahan sebanyak-banyaknya massa PKI merupakan prestasi tersendiri. Dengan cara ini kondisi sosial-politik setempat dinyatakan stabil dan terkendali. Pemerintah Orde Baru menganggap komunisme ialah musuh yang paling utama dalam pembangunan. Selama hampir 32 tahun, bahaya laten komunis di-dengung-dengungkan sebagai sebuah momok yang menakutkan. Ini ditunjukan dengan cara memutar film Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau G.30.S/PKI yang disutradarai oleh Arifin C. Noor setiap tahunnya. Kekhawatiran yang teramat sangat pada komunis (komunisto phobia) memang terlihat begitu jelas inheren pada masa Orde Baru. tak hanya itu, pemerintah Orde Baru tak segan-segan melemparkan stigma PKI pada organisasi-organisasi yang berlawanan dengan kebijakannya. Kasus 27 Juli 1996 memperlihatkan secara jelas usaha Orde Baru dalam membangkitkan ketakutan masyarakat akan komunisme.25 Penahanan ribuan anggota dan simpatisan PKI selama kurun waktu 1965 ¡V 1980-an (dalam beberapa kasus bahkan hingga masa reformasi tiba) juga bagian dari usaha Orde Baru mencegah penularan komunisme pada masyarakat. Tahanan politik ini dibuang di Pulau Buru, Nusa Kambangan dan penjara-penjara di tiap daerah. Tak ada itikad dari Orde Baru untuk melepaskannya. Segera setelah men-dapatkan tekanan internasional, khususnya Amnesti Internasional, pemerintah Orde Baru melepaskan beberapa tahanan politik dengan klasifikasi A, B dan C.26 Pemerintah memiliki berbagai dalil dalam aksi penahanan besar-besaran terhadap anggota dan simpatisan PKI. Pada tahun 1975, Pangkopkamtib Laksamana Sudomo mengatakan bahwa pelepasan tahanan politik di saat itu merupakan ancaman bagi kestabilan nasional.27 Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Sudomo, Letkol. Tedjo Suwarno di dalam sebuah kunjungan wartawan Ibu Kota ke Kamp-kamp di Purwodadi mengata-kan bahwa bila mereka dikembalikan ke masyarakat akan menimbulkan problem tersendiri dan masyarakat akan berontak.28 Di pihak lain, Bapak S mengatakan bahwa setelah penangkapan atas dirinya, keluarganya mengalami penderitaan. Ia sebagai kepala keluarga tak lagi dapat menghidupi istri dan anak-anaknya.29 Istrinya terpaksa berjualan nasi di depan Stasiun Purwodadi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan mengirim makanan sekedarnya pada Bapak S. yang saat itu di dalam Kamp di Purwodadi. Penahanan atas anggota dan simpatisan PKI tidak saja menyisakan trauma mendalam30 bagi mereka namun keluarganya juga harus menghadapi kenyataan hidup yang serba kekurangan. Di Purwodadi banyak keluarga yang hidup dalam kesederhanaan akibat penahanan dan pembunuhan terhadap anggota keluarganya yang dituduh anggota maupun simpatisan PKI. Bahkan di sebuah desa di Purwodadi, dikenal sebagai “kampung janda” karena suami-suami mereka diciduk oleh militer. Hingga kini tak dapat dipastikan secara pasti berapa jumlah korban yang meninggal dalam peristiwa pembunuhan massal di Purwodadi dalam kurun waktu tahun 1965-1968. H.J.C Princen mengatakan bahwa korban tewas ada sekitar 850 s/d 1000 orang. Sementara itu menurut perhitungan Maskun Iskandar, seorang wartawan harian Indonesia Raya, korban berkisar 6.000 jiwa. Berapapun jumlahnya, satu nyawa manusia yang hilang merupakan dosa yang tak terampuni. Maka penegakan hukum ialah jawabannya untuk menghindari perulangan peristiwa serupa.  Litsus dan Label KTP: Kontrol atas Mantan Tahanan Politik
Penderitaan tidak berakhir begitu saja. Setelah para tahanan politik pulang dari pembuangan di pulau Buru, Nusa Kambangan atau penjara lainnya, aparat militer masih saja melakukan pengawasan pada diri mereka dan keluarganya. Bapak Rk, seorang tahanan politik jebolan Pulau Buru menceritakan bagaimana dirinya diintimidasi oleh aparat setelah pulang dari Pulau Buru pada tahun 1979. Sepulangnya dari Pulau Buru, saya membuka praktek sebagai mantri. Obat-obatan yang saya bawa dari Pulau Buru saya gunakan untuk mengobati masyarakat yang membutuhkan. Namun karena hal tersebut, Koramil mendatangi saya dan memanggil saya untuk diinterogasi ¨31
Pengawasan yang extra ketat ini memang diberlakukan bagi mantan tahanan politik. Salah satu cara untuk memantau gerak gerik mereka pemerintah Orde Baru menetapkan untuk memberi tanda khusus Ex Tapol (ET) dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) para mantan tahanan politik. Tindakan lainnya, selama Orde Baru, keluarga mantan tahanan politik tidak diperkenankan memasuki dunia politik atau menjadi pegawai negeri. Untuk yang satu ini pemerintah menetapkan Penelitian Khusus (Litsus) kepada calon pegawai negeri. Seorang mantan tahanan politik pernah mengatakan sebuah lelucon bahwa label ET dalam KTP-nya bukan berarti Ex-Tapol tapi tidak lain adalah “elek terus” (Indonesia: Jelek Terus).
Menyitir apa yang pernah dikatakan oleh Ben Anderson bahwa kekuasaan Orde Baru dibangun diatas tumpukan mayat. Namun sejarah membuktikan bahwa atas nama apapun, sebuah orde yang dibangun di atas penderitaan rakyatnya pasti akan tumbang dengan sendirinya.*   
By Sinaga B. Ater………………………”Bonnie Triyana:2002″
http://stats.wordpress.com/g.gif?host=ath3r.wordpress.com&rand=0.8937784038487573&blog=2699523&v=wpcom&user_id=0&post=6&subd=ath3r&ref=http%3A//ath3r.wordpress.com/2008/02/02/sejarah-munculnyalahirnya-oerde-baru/

27 komentar:

  1. Aullina Luizzahro/XI IA 5/4
    saya mau tanya bu...kita pada waktu pelajaran IPS sd dan smp di ceritakan bahwa PKI telah melakukan kekerasan fisik kepada 7 jendral yang mereka sekap...sedangkan saya membaca artikel lain di internet bahwa tidak ada kekerasan PKI yang berbentuk fisik,lalu apakah saat itu PKI memasukkan hidup-hidup ke7 jendral ke dalam sumur/lubang buaya...????

    BalasHapus
  2. jwbnya ntar di kelas ya aulina....

    BalasHapus
  3. Lisa ina S./XI-IA5
    Setelah saya membaca artikel ini ada beberapa hal yang blum sya pahami dan saya ingin tanyakan kpd bu kus....
    1. apa maksud dari sekelompok pasukan angkatan darat membwa 7 perwira tinggi AD ke Soekarno?apakh mereka berbuat ksalahan?
    2. adakah kmungkinan Soeharto ikut campur dalam G30S/PKI tersebut?
    3. bagaimana cara Soeharto bisa mendapatkan supersemar?
    4. bukankah yang menculik pasukan AD?tapi knpa jadi PKI yang di tduh sbagai pelakunya?
    5. apakah menuntut kemungkinan Soeharto yang memberi pernyataan bahwa pembunuhan tersebut di lakukan oleh PKI merupakan awal dari permainan politiknya?
    6. saya prnah mendengar sebuah cerita dari guru sya, pd saat golkar berkibar tinggi di dunia politik mereka memperoleh suara terbanyak dengan cara mengancam para PNS atau GURU untuk memilih golkar pd saat pemilu. apakah memang benar begitu?
    trims seblumnya......

    BalasHapus
  4. DWI AGUSTIN NH/XI-IA5
    Bu sya mau tanya di lks kan sudah di jelaskan perebutan kekuasaan pada waktu presiden Soekarno dalam keadaan sakit PKI D.N.Aidit memutuskan untuk melakukan kudeta yang di laksanakan pada tanggal 01 Oktober 1965.
    1.yng sya tanyakan mengapa perebutan kekuasaan tersebut sasaran utamanya adalah menculik dan membunuh perwira2 tinggi TNI AD?
    2. Apa yang di maksud dengan AKSI COUP D'etat dan mengapa Soekarno tidak hadir dalam pemakaman jendral2 tersbt?

    BalasHapus
  5. Masfiyatul ulya/XI-IA5
    bu saya mau tanya.....
    1. Apa alasan mereka menculik 7 perwira & tdk di hadapkan ke Soekarno?
    2. knp Soekarno memberikan supersmar kpd Soeharto?
    3. apakah pd saat pemberantasan PKI HAM di indonesia sudah ada?
    trims sblumnya......

    BalasHapus
  6. Dian ayu P/XI-IA5
    1. tadi dijelaskan bahwa para tahanan yang mampu atau kaya melakukan suap menyuap dengan banyak para perwira. yang saya tanyakan bagaimana para anggota PKI yang mampu??? apakah mereka juga menyogog dan bebas dari hukuman???
    2. apa marxisme itu??
    3. bukankah Indonesia termasuk golongan hukum tetapi mengapa hal tersebut masih saja terjadi.???

    BalasHapus
  7. Mutimmah / XI IA5
    1. apakah sampai sekarang anggota PKI masih ada????
    2. apakah sampai sekarang masih adakah organisasi yang bersifat seperti PKI???
    3. kapan pemberantasan PKI selesai???
    terima kasih sebelumnya.................

    BalasHapus
  8. Fitri Agustina/XI IA5
    Gerwani merupakan suatu organisasi yang dituduh sebagai pelaku yang menyiksa 7 para perwira, mereka dihukum dan dianiaya akan tetapi semua tuduhan itu salah.
    1. yang saya tanyakan. bagaimanakah letak keadilan bagi anggota Germani.....???
    2. komunis adalah sebuah pendekatan kepada perjuangan kelas(sejarah dan masa kini)dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik. yang saya tanyakan apakah pada massa pemerintahan soeharto(orde baru)juga termasuk paham komunis.??
    3. pada artikel disebutkan setelah para tahanan pulangdari pembuangan aparat militer telah melakukan pengawasan dengan memberi tanda khusus EX Tapol (ET)dalam KTP mereka dan itu mengakibatkan diskriminatif dalam segi politik dan pekerjaan. apakah bisa melaporkan tindakan diskriminatif tersebut kepada komnas HAM...???

    Sebelumnya terima kasih kepada Bu.Kusmiati...

    BalasHapus
  9. Lisa lina S : Pertanyaanmu bagus bener,, sesuai dg yang bu kus harapkan. kamu melakukan analisa sblm menemukan permasalahan.

    Dwi Agustin : ada pepatah mengatakan memancing di air keruh, seperti itulah kurang lebih keadaannya. Coup'd' etat adalah menggulingkan kekuasaan yang sah. jelasnya ntar kita bahas di kelas

    masfiyatul ulya :ntar di kelas ya...

    Dian Ayu : ntar kita bahas dikelas jg.

    Mutimmah : secara keorganisasian PKI dah gak ada.

    Fitri agustin : komunis perjaungannya adalah menciptakan manusia tanpa kelas. selebihny antar kita diskusikan di kelas.

    Terimakasih pertanyaan yang bagus....
    sampai ketemu nanti de kelas untuk embicarakan masalah ini...

    BalasHapus
  10. yudha aNgGara/XI IA5
    yAng saYA taNyakaN kNApa saAt iTu aD gRakaN G30sPKI..,bU??
    tHankyou

    BalasHapus
  11. Nur Farida/ XI-IA5
    Bu saya mau tanya, siapa saja anggota Pertahanan Rakyat ( Hanra ) yang turut dalam pembunuhan massal yang terjadi di purwodadi tersebut?

    BalasHapus
  12. m.yufrizal afif/XI-IPA-5
    *sekelompok pasukan yang terdiri dari berbagai kesatuan Angkatan Darat bergerak menuju kediaman 7 perwira tinggi Angkatan Darat. Hanya satu tujuan mereka, membawa ketujuh orang jenderal tersebut hidup atau mati ke hadapan Presiden Soekarno.* pertanyaannya

    1. mengapa skelompok pasukan angkatan darat menculik 7 perwira tinggi. dan apakah soekarno yg memerintah.?
    2. sebenarnya yg membunuh 7 perwira tinggi tsb,TNI AD atau PKI?

    BalasHapus
  13. yudha, nur farida dan yufrizal : ntar ada sejarah jam terakhir, kita bahas ya....

    BalasHapus
  14. bu knpa ya pasukan cakra birawa itu kok bsa ngelakukan pembantean kpada 7 perwira tinggi TNI AD? siapa di balik semua itu ?
    1. bu knpa jika keturunan orang PKI itu kalu menjadi pegawai negeri itu sulit di terima?

    BalasHapus
  15. fikri : video yang tidak dpt dibuka di kelas, ada di blog ini, buka aja. yang ada hubunganya dg supersemar. ntar bu kus tunggu komentmu.
    kamu yakin dg pertanyaanmu......????
    PKI susah jadi PNS berlebihan aja aja saat itu....lebay dan alay kata anak sekarang...

    BalasHapus
  16. M.Kh0ir0n Taufiq (18/XI IA_5)
    .
    K0MEN : saya lahir di jaman 0rde baru yg mMiliki d0ktrin luar biasa guna mnjaga klangsungan kKuasan'y. slh satu yg brhasil melekat d 0tak saya & sbgian msyarakat lain'y adlh PKI itu jahat, kejam, atheis diluar apkh dia jd aktur tunggal at0 k0rban rekayasa pd peristiwa itu. bhkn ktk saya brang9apan bhw ada kejanggalan dr peristiwa G30S/PKI & kbiadaban yg dilakukan pemerintah thdp PKI stelah'y, saya msh brpikir PKI mMang sharus'y MUSNAH..
    Sekian Bu pha yg bs saya ungkapkan...
    hehee^^

    BalasHapus
  17. Ferianto Yuniawan (11/XI IA_5)
    .
    sya mw mngomentari Bu,
    klau mnrut sya sbaiknya penulisan G 30 S tdk mnyertakan PKI. krn mmang msih blum jelaz siapa yg mlakukan gerakan itu.
    Klau qt mnulis G30SPKI, scra tdk lngsung qt sepakat bhw yg mlakukan gerakan itu adlh PKI, padahal qt sndri blum tw dan tdk dha bukti autentik utk itu.
    Orang yg tw kbenarannya, selain Alm.Jend.Nasution, adlh Soeharto sbg plaku sjrahnya.
    Tapi, nyatanya smpai skrg kbenaran itu msh blum dpt qt ktahui…??
    .
    sya rasa ckup dmikian Bu.
    wassalam

    BalasHapus
  18. RIZMA/XI-IPA 5/29

    pak Soeharto memberikan pernyataan bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh aktivis PKI didukung oleh Angkatan Udara..
    apa maksud beliau memberikan pernytaan berikut sedangkan yg saya ketahui dbalik penculikan itu bahwa pak suharto sudah memfitnah pak sukarno.????????????????????

    BalasHapus
  19. BU,saya kepingin sekali ibu kus menayangkan film kejadian G30S/PKI dan supesemarr selengkapnya.....
    terima kasih bu.

    BalasHapus
  20. Saya Randy Luqman dari XI IPA 5.

    Menurut saya, Presiden Soekarno membuat supersemar di depan para tentara AD, mungkin saja bisa terjadi suatu paksaan oleh tentara tersebut supaya mendesak presiden Soekarno untuk membuat supersemar. Bersama ketiga jendral yaitu Letjen A. Yani, Mayjen Suprapto, Mayjen Supretman,mereka menyerahkan supersemar kepada Pak Soeharto.
    PKI merupakan salah satu partai komunis dibawah pimpinan M. Aidit. untuk lainnya masih kurang faham. Sebelumnya minta maaf, mohon dapat diterima pendapat saya. terima kasih

    BalasHapus
  21. kusmiati : M khoiron taufik : sama donk...bu kus jg punya perasaan seperti itu. bebarti berhasil ya apa yang diinginkan rezim orba.
    feri : sudah pernah, untuk buku sejarah SMP tapi banyak menimbulkan kontra. akhirnya buku2 tersebut dimusnahkan dg cara dibakar.
    Rizma :boleh aja kamu berpendapat. semua berhak mengeluarkan pendapatnya sendiri2. film yang ada versi ORBA, sangat subyektif. dulu sering di putar di televisi2.
    Randi Luqman : randy......A yani dkk dah meninggal. nanti kita bahas dikelas.

    BalasHapus
  22. SAYA ROBIN XI-IA 5/23...


    pada penangkapan dan pembunuhan massal yang dilakukan pada tahun 1968, pada periode ini, ukuran penangkapan semrawut dan serba asal-asalan. hanya karna menjadi anggota partai nasional indonesia faksi ALI SASTROAMIDJOJO-SURACHMAN mliter dapat menangkapnya...

    yang saya tanyakan..

    1.kenapa hanya menjadi anggota partai nasional indonesia faksi ali saatroamidjojo-surachman dia dapat menangkap meskipun asal-asalan dan serba semrawut. kenapa dia tidak menggunkan cara yang lebih benar seperti mencari bukti dahulu sehingga dia tidak asal-asalan...

    2. dan kenapa perempuan-perempuan di tuduh mencongkel matanya dan memotong kemaluannya...


    apabila ada kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja saya mohon maaf...

    BalasHapus
  23. robin : intinya sebagai generasi penerus jgn mudah terhasut dan menerima begitu saja informasi yang belum tentu kebenaranya. dan sekali lagi jgn gampang diprovokasi untuk memerangi saudara2 sebangsa sendiri....OK

    BalasHapus
  24. faizal/10/x1.1a.5
    menurut saya : terlalu bodohnya rakyat indonesia dulu yg terlalu cepat membuat keputusan bahwa yg telah membunuh ke 6 jenderal itu adalah PKI walaupun belum ada bukti yg jelas tentang kejadian tsb dan serta banyak kejanggalan2 yg terjadi hingga sekarang pun kejadian ini belum terpecahkan siapa sebenarnya dalang di balik pembunuhan para jendral yg cUkup kejam tsb






    demikian ComenT dry sY wasalam

    BalasHapus
  25. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  26. hendra nurrokhmad/XI ia 5/39

    Di sela-sela acara penggalian korban, Soeharto memberikan pernyataan bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh aktivis PKI didukung oleh Angkatan Udara.


    Yang saya tanyakan;
    1> atas dasar apa bung karno menyebutkan AU ini terlibat dalam pembantaian 6 jendral dan 1 letnan tsb???padahal AU merupakan pembela negara???lha kok malah dituduh seperti itu???

    2> kalaupun ikut,kenapa????? Padahal AU merupakan pembela Negara???

    Terimah kasih

    BalasHapus
  27. BU KUS :
    nianty : OK, bagus kalo kamu bisa mengambil hikmah dari belajar sebuah sejarah.

    hendra : Yang bilang PKI didukung AU kan pak harto kok pertanyaanmu mengapa "Pak Karno". Kok munul nama pak karno...coba di baca lagi pertanyaanmu ya.....

    BalasHapus